Friday, July 11, 2014

Anggota Kompak, Tunggakan Teratasi

BY Unknown No comments



Kelompok ini berada di Dusun Bulu Desa Tengnga, Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo yang berdiri pada tahun 2011. Hal ini berawal dari informasi Bapak Kepala Desa (Andi Rusdin)  bahwa ada dana yang bisa dipinjam di UPK Kecamatan Majauleng melalui PNPM-MPd dengan syarat membentuk kelompok. Setelah menerima informasi itu, maka ada dua belas orang yang siap menjadi anggota kelompok dan sepakat untuk mengajukan proposal permohonan dana bergulir di UPK kecamatan Majauleng dan sangat berharap agar mendapatkan dana bergulir UEP agar dapat membantu permodalan usaha tenun sarung sutera dan usaha perdagangan masing-masing anggota.
Pada saat itu yang dipilih jadi ketua yaitu ibu Sri Wahyuni dan sampai sekarang masih dipercaya jadi ketua kelompok karena sangat loyal dalam memimpin kelompoknya. Permohonan dana pada perguliran pertama sebesar Rp. 26.500.000,- untuk 12 orang anggota. Pada perguliran ketiga sebesar 37.000.000,- untuk 13 orang anggota. Selama 3 kali perguliran tersebut, selama itu pula telah mengalami pergantian struktur keanggotaan kelompok kecuali Ketua Kelompok (A. Marwah) yang tetap dipercaya jadi ketua. Adapun struktur dan anggota kelompok pada perguliran kelima yakni sebagai berikut: Ketua,  Sri Wahyuni;  Sekretaris, Sarifa Fatimah; Bendahara Ratnawati; Anggota Hj. Sitambolo, Sarifa Indare, Darmawati, Kamaria, Patimang, Rahmawati, A. Nurdalia, Hj. Sitti Hamid, Nurfaidah, Patimasang.
Alhamdulillah, yang perlu dicatat dari kelompok ini adalah kekompakan anggota kelompok yang tetap terjaga. Terbukti, selama mendapat dana UEP tidak pernah mengalami tunggakan membayar di UPK. Hal ini karena berlakunya tanggung renteng di anggota kelompok. Ketua kelompok yang langsung talangi jika ada anggota kelompok yang tidak membayar. Kalau mau dilihat dari segi ekonomi produktifnya, memang sangat pantas untuk diberi dana. Bagaimana tidak, anggota kelompok mempunyai usaha produktif yaitu tenun sarung sutera dan usaha perdagangan.
Peluang ke depan anggota kelompok ini untuk berkembang sangat terbuka karena permintaan pasar akan kain sutera semakin meningkat. Hal ini terbukti, ketika perguliran pertama masih banyak anggota kelompok yang belum memiliki alat tenun sendiri. Namun pada perguliran ketiga, semua anggota kelompok telah memiliki alat pertenunan sendiri.  Bahkan ada sebagian anggota kelompok yang telah memiliki 3 sampai 4 alat pertenunan. Tetapi yang perlu diingat adalah persaingan dunia usaha ke depannya akan semakin tidak menentu. Contohnya untuk sarung sutera, munculnya alat-alat teknologi canggih yang bisa menghasilkan sarung sutera yang le bih banyak jika dibandingkan dengan anggota kelompok yang hanya menggunakan alat-alat tradisional atau alat tenun bukan mesin (ATBM). Tetapi, tingkat kepercayaan konsumen terhadap produksi yang menggunakan alat-alat tradisional masih jauh lebih tinggi. Jadi peluang anggota kelompok untuk berkembang tetap terbuka.

Kelompok ini akan terus berbenah diri baik dalam administrasi kelompok maupun dalam kekompakan anggota. Sehingga tetap bertahan dan tetap mendapat dana bergulir sehingga anggota kelompok semakin sejahtera dan berdaya sesuai dengan keinginan PNPM-MP yang ingin menjadikan masyarakat Indonesia berdaya dalam segala hal terutama perekonomian masyarakat luas. (FK Majauleng – Kab. Wajo) 

Butuh Swadaya Untuk Mengunjungi Lokasi Ekstrim

BY Unknown No comments

Kecamatan Liukang Tangaya terdiri dari 1 Kelurahan dan 8 Desa. Kecamatan ini masuk kategori sangat-sangat sulit (ekstrim) semua desa hanya bisa dijangkau dengan menggunakan transportasi laut. Kecamatan ini terbagi dalam 3 wilayah yaitu wilayah Timur terdiri dari  desa 3 desa yaitu Desa Balo – Baloang, Desa Sabaru dan Desa Sabalana. Untuk mencapai desa tersebut harus lewat Paotere Makassar dengan menggunakan/menumpang  kapal nelayan dan di tempuh selama 18 jam dalam kondisi normal. Untuk wilayah Tengah yaitu Kelurahan Sapuka yang juga sebagai Ibukota Kecamatan dan juga harus melewati pelabuhan Paotere Makasaar yang bisa di tempuh selama 25 jam dalam kondisi normal untuk Wilayah Barat  terdiri dari 5 Desa yaitu Desa Tampaang, Desa Kapoposang Bali, Desa  Satanger, Desa Sailus dan Desa Poleonro yang bisa di tempuh lewat Paotere selama 2 hari 3 malam itupun sangat jarang ada kapal nelayan yang kesana jadi waktu Fastekab, FK, FT, Spesialis SP2M RMC 5 dan Spesialis FMS Pusat dengan menggunakan pesawat yang berangkat dari Makassar dan tiba di NTB/Mataram dengan biaya Promo Rp. 612,000,-/orang kemudian dilanjutkan perjalanan ke Lombok Timur  dengan menggunakan mobil Rental selanjutnya menunggu pemberangkatan ke Desa/Pulau Kapoposan Bali yang ditempuh dengan menggunakan kapal nelayan selama 11 jam normal kemudian dilanjutkan perjalanan ke Desa Satanger  yang ditempuh selama 1 jam perjalanan dalam kondisi normal. Dari Desa Satanger perjalanan dilanjutkan ke Desa Sailus dengan waktu tempu 1,5 jam dalam kondisi normal dan dilanjutkan perjalanan ke Desa Poleonro dengan waktu tempuh  selama 30 Menit Setelah dari Desa polenro perjalaanan kembali ke Desa Sailus karena memburu jadwal kapan nelayan yang kan ke Lombok Timur Provinsi NTB Perjalanan dari Desa Sailus ke Lombok Timur /Provinsi NTB ditempuh dengan 14 jam kemudian tiba di Lombok timur dan melanjutkan perjalanan ke Padang Bai dengan naik Kapal Fery/Penyeberangan selama 3 jam,dan tiba di Prov.Bali yang selanjutnya menunggu Jadwal pesawat yang memang sudah di boking tiket terlebih dahulu sebelum berangkat ke Desa – Desa tersebut diatas. Biaya tiket promo dari Bali ke Makassar Rp.742,000,-/orang Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk rute ini adalah sekitar 10 hari Jadi untuk melakukan supervisi dan monitoring ke 4 Desa tersebut diatas maka rute yang kami lewati ini adalah yang paling ideal dan paling aman tetapi memang harus menyiapkan Ketersediaan dana (swadaya) 


karena kalau hanya mengandalkan dana SPPD untuk FasKab yang hanya Rp. 50,000,- per hari maka dipastikan tidak akan ada pernah ada Tim Faskab yang melakukan supervisi dan monitoring ke desa-desa tersebut diatas sehingga harus ada nilai SWADAYA (FasTKab Pangkep)

Mengintai Produk Lokal

BY Unknown No comments


Baru-baru ini telah dilaksanakan peringatan hari Bulan Bakti Gotong Royong masyarakat (BBGRM) yang XI tingkat provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 14 Mei 2014 di Pinrang.  Dalam kegiatan tersebut PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Enrekang mendapat kesempatan untuk ikut berpartispasi dalam kegiatan tersebut dalam bentuk pameran khususnya produk lokal hasil produksi kelompok Simpan Pinjam Kelompok perempuan (SPP), berbagai hasil produksi pertanian maupun berupa makanan ringan/cemilan yang merupakan hasil produksi kelompok SPP itu sendiri, seperti Dangke (terbuat dari susu segar sapi dan kerbau), dodol, keripik pisang, baje, jipam, deppatetekan, keripik dangke, keripik ubi, jahe siap saji, teh Rosella, beras mandoti, dll.
Produksi makanan ringan/cemilan merupakan hasil produksi yang dibuat oleh ibu-ibu yang merupakan kelompok binaan UPK melalui dana PNPM mandiri Perdesaan.
Hasil produksi lokal kelompok SPP sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih luas, karena produksi tersebut sangat khas dengan daerah dimasing-masing wilayah di kabupaten Enrekang, selain itu itu pada kegiatan BBGRM tersebut hasil produksi lokal sangat diminati oleh masyarakat, hal tersebut terbukti dengan bahan pameran tersebut masyarakat berlomba2 untuk membeli hasil produksi lokal yang ada.  Selain itu, hasil produksi khususnya makanan ringan/cemilan memiliki bahan baku yang terjangkau untuk diperoleh dan teknik pembuatan yang mudah dilakukan.
Kondisi yang ada bahwa hasil produksi lokal baru bisa dikembangkan dalam daerah, karena adanya keterbatasan di berbagai sektor termasuk pemasaran dan sulitnya menjalin kerjasama dengan pihak ketiga.  Olehnya itu, dibutuhkan perhatian yang maksimal dari seluruh satke Holder dalam rangka pengembangan hasil-hasil produksi masyarakat khususnya di bidang pemasaran serta pembinaan yang intensif te rhadap anggota kelompok dalam pengelolaan usaha menjadi usaha Ekonomi mikro yang berkualitas dan diperhitungkan dalam pemasaran. (FasKab Enrekang)